WARNA memegang peranan penting dalam tren busana 2009. Namun, tidak dalam kemasan monokrom,tetapi tampil apik sebagai bauran warna alias gradasi.
Banyak hal yang akan kembali hip pada 2009. Salah satunya permainan gradasi warna dalam busana. Hal itu terlihat jelas dari koleksi terbaru yang disuguhkan para desainer. Dari satu runway ke runway lainnya, bisa dipastikan gradasi warna muncul sebagai aksen. Warna transisi ini pun sontak menjadi salah satu acuan yang diprediksi akan memimpin arah kecenderungan tren busana pada tahun ini.
Pasalnya, palet yang bisa terdiri atas berbagai warna ini mampu memberikan sentuhan yang berbeda saat diaplikasikan pada rancangan. Tengok saja koleksi milik Paolo Melim Andersson untuk label Chloe. Meskipun menghadirkan garis rancangan yang simpel, Andersson mendapat respons positif dari para pengamat mode atas pemilihan warna yang segar.
Begitu juga dengan Emillio Pucci. Untuk musim semi dan musim panas 2009, direktur kreatif label tersebut, Matthew Williamson, mempersembahkan permainan gradasi yang pantas jadi pilihan.
Kendati banyak bermain dengan palet menyala layaknya pink neon, oranye, merah, serta hijau cerah, koleksi Williamson tetap tampil memesona. Hal itu disebabkan teknik gradasi yang digunakannya untuk membaurkan warna. Hasilnya, tentu saja kombinasi atraktif antara warna memikat serta corak yang menyegarkan.
"Gradasi warna bisa memberikan aura yang berbeda pada pemakainya, berbeda dengan warnawarna solid," terang Williamson. Permainan gradasi dalam kemasan yang lebih etnis disuguhkan desainer flamboyan Giorgio Armani.
Di tangannya, busana kasual musim semi berubah menjadi koleksi bercitra elegan. Dengan apik, Armani memadukan berbagai unsur, dari modern hingga etnik dalam balutan warna transisi yang menggoda. Tidak jauh berbeda dengan busana keluaran Roberto Cavalli.
Untuk koleksi ready-to-wear musim semi mendatang, label Just Cavalli pun tidak ketinggalan menghadirkan permainan gradasi. Hebatnya, Cavalli tidak hanya menampilkan gradasi dual tone, tetapi multiwarna yang menjadikan koleksi besutannya terlihat bagai karya seni.
Hal serupa pun terlihat di catwalk Madrid. Jose Miro mempersembahkan permainan gradasi yang terdiri dari berbagai warna. Hanya, desainer kelahiran Kuba tersebut menampilkannya dalam nuansa yang lebih lembut.
Tidak seperti Cavalli yang justru tanpa ragu mengawinkan berbagai warna cerah dalam satu rancangan. Bentuk busana yang dihadirkan keduanya pun tidak jauh berbeda, loose, tanpa garis pinggang. Begitu juga dengan koleksi dari label Locking Shocking yang menampilkan permainan gradasi dalam nuansa yang lebih feminin.
Kendati berkesan lebih minimalis, gradasi dual tone justru mendapatkan perhatian lebih banyak pada 2009. Di London, Luella Bartley bertanggung jawab atas hal ini. Sementara di Amerika, Badgley Mischka tidak mau ketinggalan menampilkan gaya serupa.
Permainan gradasi pun bisa menimbulkan keanggunan tersendiri. Seperti pada koleksi milik Trussardi, penggunaan warna cokelat dan turunannya yang diaplikasikan dalam bentuk tubedress beraksen lilitan kain hadir begitu elegan.
Di runway yang sama, Elie Saab dan Igor Chapurin juga menyajikan koleksi gradasi dual tone. Hanya, disajikan dalam palet yang berbeda. Saab dan Chapurin lebih memilih palet klasik hitam-putih yang ditampilkan dalam bentuk glamor, namun minim detail.
Di India, teknik gradasi berubah nuansa menjadi lebih muda. Tengok saja rancangan besutan Gayatri, tim kreatif Levi's, serta label lokal Portico. Paduan warna cerah yang beraksi di panggung Lakme Fashion Week 2009 tersebut menampilkan gaya yang dinamis, tetapi tetap konsisten di jalur feminin.
Dari koleksi para desainer di atas, dapat diambil satu kesimpulan. Gradasi mampu memberikan penampilan yang berbeda. Terlebih bila dihadirkan secara vertikal, efeknya hampir menyamai warna hitam. Bisa menimbulkan siluet pinggang yang lebih ramping.
No comments:
Post a Comment