Friday, August 21, 2009

Busana Muslim Kontemporer

o1 o2

MERAYAKAN hari jadinya yang ke-13, Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat menggelar milad yang mempersembahkan koleksi 13 desainer yang tergabung di dalamnya.

Menjadikan Jawa Barat sebagai trendsetter busana muslim Indonesia merupakan tujuan IPBM. Karena itu, setiap tahunnya, setiap desainer yang terlibat selalu berusaha memberikan sesuatu yang inspiratif, baik bagi desainer lainnya maupun tamu undangan.

Seperti juga kali ini, tema "?Aesthetic in Fashion" ?yang diusung IPBM menggambarkan betapa busana muslim pun bisa tampil apik dan variatif layaknya busana kontemporer. Iva Lativah, Ketua IPBM Jawa Barat mengatakan, sudah menjadi kewajiban para desainer untuk berdakwah melalui busana.

"Bagi kami, para desainer,busana adalah syiar Islam, karenanya kami berusaha memberikan yang terbaik setiap tahunnya untuk para konsumen, sehingga mereka pun terpanggil keimanannya untuk berbusana sesuai kaidah Islam," ujarnya.

Selain itu, Iva juga mengungkapkan bahwa meskipun sudah menginjak usia yang ke-13, IPBM masih harus terus belajar dan berinovasi sehingga dapat terus berkembang dan maju dalam merancang busana muslim. "Sehingga nantinya, busana muslim dapat menjadi pakaian yang populer dan menjadi ciri khas bagi setiap muslim di tanah air," tuturnya.

Melihat koleksi yang ditampilkan para desainer di atas panggung, tampak jelas bahwa tahun 2009 ini sisi kontemporer berbusana muslim menjadi konsentrasi utama.Ketua Penyelenggara Milad IPBM XIII Herman Nuary menyebutkan bahwa hal tersebut dilakukan guna menyiasati persaingan yang semakin kompetitif di dunia fashion.

"Dengan begitu, kita bisa mengangkat kaum muslimah agar dapat selalu tampil rapi dan serasi, menjadi muslimah yang seutuhnya," katanya.

Keistimewaan lain yang dibawa IPBM pada pertunjukkan yang dihelat di Ballroom Hotel Hilton, Bandung, itu adalah kerja sama dengan Dekranasda Jawa Barat yang baru pertama kali dilakukan. Ketua Dekranasda Jawa Barat sekaligus Penasihat IPBM Netty Heryawan mengatakan, kerja sama antara Dekranasda dan industri busana muslim diharapkan dapat lebih memperkaya khasanah fashion di Jawa Barat.

"Dengan jumlah penduduk mencapai 42,1 juta jiwa dan pasar busana muslim yang mencapai 80 persen-nya, maka hal itu merupakan potensi yang tidak bisa dikesampingkan. Apalagi saat ini busana muslim ada di setiap level usia, aspek gaya hidup, juga di pertemuan bisnis. Karenanya, Dekranasda memiliki kepentingan dalam industri ini untuk mempertemukan potensi Jawa Barat, sehingga bisa terjadi sinergi antara seni dan budaya Jawa Barat dengan industri fashion grosir busana muslim yang menjanjikan ini," terang istri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan tersebut.

Sinergi tersebut pun direspons para desainer dengan menghadirkan rangkaian koleksi busana muslim kontemporer, yang selaras dengan tren terkini,namun tanpa melupakan sisi tradisional budaya.

Nuniek Mawardi, salah satu desainer yang berpartisipasi, mengungkapkan bahwa koleksinya yang bertema ?"Ambiguous Earthy"? merupakan kombinasi antara inspirasi global dengan citra lokal.

"Sesuai dengan tren musim semi dan musim panas 2010 yang mengusung tema 'Ambivalen',saya berusaha mengombinasikan sisi internasional dalam napas lokal melalui gaya busana Mesopotamia, namun dengan material tradisional, yakni tenun Gedog Tuban dan Lurik Yogyakarta," paparnya.

Berbeda dengan Nuniek yang memberikan aksi twist pada bentukan tunik dan gaun ala jubah Assyria, Iva Lativah justru bermain garis dengan mengedepankan tema ?"Art Deco Batik?". Yang menarik, Iva menempatkan huruf-huruf berhias metalik membentuk labelnya, Iva Lativah, di bagian depan busana, baik itu berupa tunik, gamis, maupun kemeja untuk pria.

Koleksi lain yang juga terlihat menonjol dalam pergelaran tersebut adalah milik Ernie Kosasih yang mengetengahkan gaya koboi melalui tema ?"In The Mood of Western"?. Bagaimana tidak, rompi, kemeja kotak-kotak, rok berumbai, sepatu bot, dan topi koboi mendominasi koleksinya, menjadikan pertunjukkan semakin meriah dengan alunan musik country, sekaligus memancing tepuk tangan para tamu undangan.

Kontras dengan koleksi besutan Yana Diah Kusumawati yang menonjolkan kesederhanaan rancangan, namun dengan twist apik berupa permainan aksesori berukuran jumbo serta teknik jumputan sebagai motif. Adapun Ning Zulkarnain serta Nina Azura menyuntikkan keceriaan lewat permainan warna pelangi.

Bila Nina bermain dengan gradasi dan sentuhan metalik, Ning justru menyajikan semua warna menjadi satu melalui motif abstrak dan gaya multi-layer. Desainer lain yang juga berpartisipasi dalam milad IPBM XIII adalah Fenny Sofia, Betty Ahyar, Hennie Noer, Meeta Fauzan, Joko Aditya Subekti, serta Herman Nuary.

sumber:okezone.com

No comments:

Post a Comment